Wisata kita

kenali bali lebih dekat lewat wisatanya

PANEN DURIAN DESA BONGANCINA Februari 6, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ardibagoes @ 4:22 pm


durian-11

Desa bongancina terkenal dengan agronya, salah satu dari hasil agro tersebut adalah buah durian. Taukan buah yang satu ini, dibalik kulit yang berduri dia menyimpan daging buah yang sangat lejat. Untuk saat ini hasil buah durian di desa bongancina mengalami penurunan, itu di akibatkan oleh perubahan musim yang secara mendadak. durian2

Akibatnya bunga dari durian tersebut jatuh berguguran. Tapi tindak usah kawatir untuk mendapatkan buah durian di desa bongancina tidaklah sulit, di desa bongancina masih ada petani yang memiliki buah durian,, salah satunya bapak nyoman armawan, selain sebagai salah satu peternak kambing beliau juga sebagai petani kopi dan durian,

pohao

menurut beliau buah yang satu ini selain memiliki rasa yang lezat juga memiliki nilai jual yang tinggi, satu buah durian yang berat hampir satu kilogram bisa mencapai harga Rp.3000,, beliau sering me3njual buah durian dengan sistem titip, artinya : beliau menitipkan buah yang satu ini di warung terdekat, selain dengan sistem tersebut buah ini juga banyak dicari pedagang pedagang ke pemiliknya, artinya pedagang langsung mencari ke sumber dari buah tersebut… itulah sekilah tentang buah durian desa bongancinabunga

 

Kambing gembrong yang hampir punah Oktober 2, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ardibagoes @ 8:00 pm

Sory ya agak lama soalnya ga ada waktu tuk ke warnet,,,,,,,,,,,

masih di desa bongancina. Kali ini saya akan bahas tentang kambing gembrong yang sedikit banyak di ternakkan di desa bongancina….

PERTAMA kali melihat hewan ini, pasti bingung! Orang akan melihat hewan itu seperti kambing namun mirip anjing. Melihat badannya memang mirip kambing, tetapi bila melihat bulunya yang lebat mirip anjing. Dari badan hingga kepala, hewan ini juga hampir tertutup seluruhnya oleh bulu. Itulah kambing “gembrong”, kambing asal Bali yang hampir punah. Kini hanya tinggal 72 ekor.

KAMBING yang nyaris punah ini menambah daftar sejumlah kekayaan hayati Indonesia yang bernasib sama alias hampir lenyap dari muka Bumi. Sebelumnya, hewan yang juga terancam punah antara lain sapi grati dan kambing kosta. Bila dibiarkan akan makin banyak kekayaan hayati yang tidak terurus sehingga kita kehilangan kekayaan genetik.

Langkanya kambing ini juga terlihat dari minimnya pustaka yang membahas kambing gembrong itu. Sulit untuk mencari buku-buku yang membahas kambing itu. Bahkan ketika Kompas mencari di Internet hanya di dapat dua situs yang mencantumkan kambing gembrong. Itu pun tidak banyak informasi yang didapat. Hanya nama kambing itu disebut di dua situs tanpa disertai dengan pembahasan yang memadai.

Asal usul kambing gembrong belum bisa dipastikan. Ada yang menduga kambing tersebut merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Dugaan ini didasarkan pada ciri-ciri fisik kambing yang hampir mirip dengan kambing gembrong.

Dua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali. Dari persilangan dua kambing itulah kambing gembrong muncul. Kambing itu berkembang hingga beranak pinak. Tetapi, cerita ini juga masih simpang siur. Soal asal usul kambing itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Kambing gembrong sangat unik. Kambing ini dulunya banyak hidup di daerah pantai di Kabupaten Karangasem. Nelayan sering memotong bulunya yang panjang lalu diikatkan ke kail untuk menangkap ikan,” kata Ketua Yayasan Bali Tekno Hayati yang juga peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Bali, Suprio Guntoro.

Kajian ilmiah soal “khasiat” bulu kambing itu hingga bisa mengundang ikan datang memang belum diketahui secara persis. Para nelayan setempat berkeyakinan, bulu yang ditaruh dekat kail itu bercahaya hingga mengundang ikan berdatangan.

Ikan yang hiruk pikuk di dekat bulu itu akan tersangkut mata kail yang letaknya tak jauh dari bulu kambing itu. Tanpa pakan, nelayan dengan mudah mendapat ikan. Cara ini sudah dikenal lama dan masih digunakan nelayan setempat.

Kambing gembrong dengan bulu lebat itu memang hanya melekat di tubuh kambing jantan. Kambing betina tidak memiliki bulu selebat kambing jantan. Kambing jantan mempunyai bulu hingga 30 sentimeter. Bulu ini dicukur rata-rata setahun dua kali.

IHWAL makin punahnya kambing itu diduga disebabkan oleh banyak hal. Ada yang menyebutkan bermula dari kepercayaan nelayan yang berkeyakinan bahwa bila kambing jantan sering dikawinkan dengan kambing betina akan menyebabkan bulunya rontok.

Mereka berusaha mencegah kambing jantan itu mengawini kambing betina agar bulunya tetap lebat. Maklum saja, mereka berusaha mendapatkan bulu itu karena harganya sangat mahal, bahkan hingga mencapai Rp 400.000 per kilogram. Tentu saja nelayan berusaha agar bulu kambing itu tetap lebat.

“Akibatnya regenerasi kambing gembrong ini sangat lambat, hingga sekarang tinggal sedikit. Kita sudah berupaya dengan memberi penyuluhan kepada penduduk bahwa tidak benar kalau sering kawin bisa mengakibatkan bulu rontok,” kata Guntoro.

Upaya penyuluhan terus dilakukan, tetapi masih saja ada masyarakat yang percaya dengan keyakinan itu hingga menyulitkan upaya pelestarian kambing itu. Keyakinan itu masih melekat di kalangan pemilik kambing.

Makin punahnya kambing itu juga diakibatkan desakan ekonomi nelayan setempat. Para nelayan yang umumnya miskin dengan mudah menjual kambing itu ke tukang jagal karena desakan ekonomi. Misalnya ketika anak harus sekolah, mereka terpaksa menjual kambing itu untuk biaya sekolah anak-anak mereka.

Ada juga yang menyebutkan, dengan bulu yang lebat hingga menutup bagian kepala, menjadikan kambing ini mudah punah. Alasannya, kambing ini kesulitan untuk makan akibat mata dan mulutnya tertutup oleh bulu. Kesulitan ini mengakibatkan makanan sulit masuk ke mulut hingga tidak bisa menerima masukan gizi yang memadai. Akibatnya, kambing mudah terserang penyakit hingga mati. Semua penyebab ini mungkin saja saling berkait hingga makin memperparah kepunahan kambing tersebut. Tanpa disadari kambing itu terus berkurang.

UPAYA untuk melestarikan kambing gembrong ini belum dilakukan secara serius. Dari tahun ke tahun belum ada pihak yang mau melestarikan hewan ini, bahkan nyaris terlupakan dan tidak mendapat perhatian.

Pada mulanya, Yayasan Bali Tekno Hayati yang mendapat sponsor dari Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) pada tahun 1998-1999 mulai melakukan konservasi. Dengan dana Rp 25 juta, yayasan membeli kambing itu dari nelayan, kemudian menitipkannya.

Mereka yang dititipi berhak mendapat induknya, namun berkewajiban untuk menyerahkan anakannya. Dari anakan ini, yayasan kemudian menitipkannya lagi ke peternak lainnya yang diharapkan agar terus berkembang hingga kambing ini bisa lestari.

Akan tetapi, upaya ini hanya berlangsung dua tahun akibat yayasan kesulitan dana untuk melestarikan kambing itu. Dana dari Kehati hanya dapat digunakan selama dua tahun itu.

Di sisi lain, dengan alasan tertentu akibat desakan ekonomi, kambing-kambing itu tidak terurus dengan baik. Bahkan, peternak juga ada yang menjualnya hingga upaya pelestarian terhambat.

Agar tidak makin punah, Yayasan Bali Tekno Hayati dengan bekerja sama BPTP melokalisasi kambing yang masih menjadi hak yayasan. Sebanyak tujuh ekor kambing akhirnya dipindah dan dipelihara di kebun percobaan BPTP Bali di Desa Sawe, Kabupaten Jembrana.

Dari tujuh ekor itu kini telah beranak menjadi 10 ekor. Kedua lembaga itu kini berusaha melestarikan satwa langka tersebut secara in situ atau di habitatnya, yaitu di Kabupaten Karangasem dan eks situ atau di luar habitatnya.

Mereka juga mencoba menyilangkan dengan kambing peranakan ettawah (PE). Dengan persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias gembrong ettawah.

Saat ini, setidaknya terdapat enam induk kambing peranakan ettawah yang mengandung benih gembrong. Persilangan ini salah satunya dilakukan di Desa Bongancina, Kecamatan Bungsubiu, Kabupaten Buleleng. Harapannya, agar kambing gembrong tidak punah.

Upaya pelestarian ini masih jauh dari yang diharapkan. Jumlah kambing itu masih bisa makin berkurang kalau tidak ada upaya serius untuk melestarikannya. Apalagi sebagian besar kambing yang masih hidup berada di tangan peternak atau nelayan yang miskin. Masih banyak dibutuhkan bantuan dan dukungan dari semua pihak agar kambing ini tidak lenyap.

Mengharapkan bantuan pemerintah? Mungkin masih sulit untuk mendapatkan bantuan pemerintah untuk urusan yang satu ini. Pemerintah belum banyak memperhatikan masalah seperti ini. Pemerintah masih sibuk dengan urusan ekonomi dan politik yang belum selesai hingga sekarang.

Siapa tahu ada sponsor yang mau membantu pelestarian kambing yang satu ini. Sayang bila kambing gembrong hilang dari muka Bumi hanya karena kita lalai untuk melestarikannya.

 

DESAKU BONGANCINA September 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ardibagoes @ 11:52 am

Nah sesuai dengan jani saya waktu kemaren, maka dari itu saat ini saya akan membahas bongancina.

DESA Bongancina berjarak sekitar 50 kilometer arah utara Kota Denpasar, Bali.Bongancina terletak antara perbatasan buleleng dengan tabanan, tepatnya berada sekitar +- 10 km dari pupuan atau kalau kita menempuh jalur negara berada sekitar 15 km dari suraberata.

Bongancina memiliki objek wisata diantaranya yang mungkin sudah terkenal ke manca negara yaitu objek wisata agronya, objek wisata ini berlokasi di sebelah utara dari arena serbaguna di bongancina, objek wisata ini di kelola oleh suatu kelompok tani.

Di wisata agro ini kita di suguhkan beberapa lokasi wisata diantaranya wisata alam mengelilingi kebun agro

tersebut, Menikmati pemandangan indah dari menara yang telah disediakan untuk pengunjung. Selain berkeliling kebun agro, menikmati pemandangan dari menara, disana juga terdapat peternakan kambing.

Nah puas sudah kita berkeliling di kebun agro sekaligus menikmati peternakan kambing tapi semua itubelum lengkap tanpa menyicipi makanan khas wisata agro yaitu dodol tape dengan olahan minuman wine salak ditambah dengan ice cream susu kambing sebagai penutupnya.


Nah lengkap sudah wisata kita di desa bongancina tapi sebelum pulang ada baiknya kita membawa sisikit oleh oleh tuk keluarga atau orang tercinta. Itu bisa berupa olahan kulit salak berupa patung mainan atau kapal laut yang terbuat dari rangkaian korek api kayu.

Itulah perjalanan wisata kita kali ini……
untuk informasi tentang bongancina dan wisata agronya bisa coment di sini yau…
BERSAMBUNG…….

 

Tenganan Village September 13, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ardibagoes @ 9:48 am

Nah kemarin kita telah berkel;iling di kintamani,Now kita akan jalan jalan ke desa yang menjadi andalan wisata di kabupaten karangasem supaya ngak kebanyakan basa basi langsung aja yach……..

Tenganan adalah desa yang mempunyai keunikan sendiri diBali, desa yang terletak cukup terpencil dan terletak di Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan berjarak sekitar 60km dari pusat kota Denpasar, Bali. Desa ini sangatlah tradisional karena dapat bertahan dari arus perubahan jaman yang sangat cepat dari teknologi. Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik dll masuk ke Desa Tenganan ini, tetapi rumah dan   adat tetap dipertahankan seperti aslinya yang tetap eksotik. Ini dikarenakan Masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awig yang sudah mereka tulis sejak abad 11 dan sudah diperbaharui pada Tahun 1842.

Desa tenganan mempunyai luas area sekitar 1.500 hektar, ketika tempat wisata – wisata yang lain dibali berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Amed, yang sangat meriah dengan kehadiran Hotel, Pantai, Café, dan kehidupan malamnya.

Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh tidak peduli dengan perubahan jaman dengan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu didesa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.

Untuk memasuki desa Tenganan sangatlah unik, sebelum masuk ke area Desa Tenganan. Kita akan melalui sebuah loket, disitu kita tidak diharuskan membayar. Memang karena tidak ada tiket/karcis yang dijual, tapi kita memberikan sumbangan sukarela berapa saja seikhlas kita ke petugas dibangunan kayu yang semipermanen, sebelum masuk wisatawan harus melalui gerbang yang cukup sempit yang hanya cukup dilewati oleh satu orang. Penghasilan penduduk Desa Tenganan juga tidak jelas berapa pendapatannya,

karena disana masih menggunakan sistem barter diantara warganya.disana banyak tanaman, sawah, kerbau yang bebas berkeliaran dipekarangan mereka.
Untuk mendongkrak potensi wisata mereka, Penduduk Desa Tenganan banyak yang menjual hasil kerajinan tangannya ke turis. Artshop juga dapat kita lihat begitu kaki kita melangkah kepintu masuk, mereka menjual banyak kerajinan. Seperti Anyaman bambu, ukir-ukiran, lukisan mini yang diukir diatas daun lontar yang sudah dibakar, dan yang paling terkenal adalah kain geringsing. Kain ini sangatlah unik karena dengan sekilas memandang kita dapat langsung mengetahui kalau kain tersebut memang buatan tangan.

Kain ini termasuk mahal, dan hanya diproduksi di desa tenganan saja. Waktu pengerjaannya pun memerlukan waktu yang cukup lama, karena karena warna – warna yang terdapat dikain gringsing ini berasal dari tumbuh-tumbuhan dan memerlukan perlakuan khusus. Walaupun banyak wisatawan yang semakin lama semakin banyak untuk datang didesa ini, namun sayang belanja suvenir mereka masih kurang. Ungkap I Made pelukis lukisan mini diatas daun lontar.

Berada di desa ini kita merasakan suasana yang aman dan damai, para penduduk desanya yang sangat ramah dan bersahabat. Kita dapat berkeliling areal desa tersebut dan menyaksikan aktivitas mereka sehari hari. Saat yang paling tepat kita berada disana pada saat sore hari, karena pada sore hari biasanya mereka penduduk desa Tenganan sudah melakukan aktivitasnya. Dan berkumpul didepan rumahnya masing-masing, dan tak ayal mereka keluar dan berkumpul bersama para penduduk yang lain. Dan pada saat ini kita dapat menyaksikan dan melihat tingkah laku dan adat budaya tradisional mereka yang amat kental. Maka pantaslah jika mereka disebut dengan sebutan BaliAga(bali Asli).

 

Sekilas tentang Kintamani September 12, 2008

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — ardibagoes @ 5:27 pm

Kintamani, yang terletak di kabupaten Bangli, merupakan salah satu tempat wisata favorit pilihan wisatawan baik domestik maupun luar negeri.

Kintamani menawarkan suasana perbukitan yang segar dengan suhu udara sekitar 18 derajat celcius, mirip seperti udara di Bedugul. Daya tarik utama dari kawasan Kintamani adalah pemandangan Gunung dan Danau Batur. Gunung Batur merupakan gunung yang masih berstatus aktif dan tertinggi kedua setelah gunung Agung di Besakih. Suasana terbaik adalah ketika menikmati hidangan santap siang sambil menikmati keindahan danau dan gunung ini yang menyemburkan asap bersahabat.

Tertarik untuk lebih mengenal Kintamani? Sempatkan juga diri anda untuk mengunjungi desa Trunyan yang terletak di dekat danau. Tapi anda mesti menyebrang dengan perahu untuk sampai di sana dengan perjalanan kurang lebih 20 menit. Yang menarik dan unik yaitu cara pemakaman penduduk lokal yang tentunya berbeda dari kelaziman di Bali. Mayat disandarkan di pohon tanpa dikuburkan. Tapi yang unik mayat tidak mengeluarkan bau karena ternetralkan oleh bau harum kayu yang dinamakan Menyan.

Selain objek wisata nan indah yang dimiliki Kintamani, disana juga terdapat anjing kintamani yang menawan hati. Biasanya wisatawan yang berkunjung ke Kintamani tak lupa tuk membeli anjing kintamani sebagai oleh-oleh.

Unik bukan? Kalau tertarik, kenapa tidak memasukkan alternative tempat wisata Kintamani dalam liburan anda? Selamat berlibur di Bali.